Bagua Zhang

Thursday, June 2, 2016



Baguazhang adalah seni bela diri Cina yang mengambil prinsip dasar dari buku kuno I Ching. Baguazhang adalah salah satu dari tiga ilmu bela diri Cina yang melatih organ dalam dahulu dengan melatih kekuatan kuda-kuda dan tidak melatih diri dengan kekerasan yang juga disebut Neijia (dua lainnya adalah Xingyi dan Taijiquan) Orang Cina mengenal Taijiquan dengan kekuatan pinggangnya. Xingyi kekuatan tinjunya dan Baguazhang mahsyur dengan langkah kakinya.

Baguazhang sendiri jika diartikan dalam bahasa Indonesia berarti (jurus) Telapak Delapan Penjuru (八 berarti delapan, 卦 berarti penjuru, dan 章 berarti telapak).[6] Seni bela diri ini memusatkan pada bagaimana cara melawan musuh dengan telapak terbuka dan perubahan, berbeda dengan seni bela diri umumnya yang menggunakan tinju dan tenaga yang besar.

Sejarah

Jurus Baguazhang diciptakan oleh Dong Haichuan (董海川) yang lahir di Wei An, He Bei sekitar tahun 1831. Sejak kecil ia berlatih ilmu bela diri lokal dan menjadi salah satu petarung yang disegani. Pada umur 40 tahun ia melakukan perjalanan ke selatan dan menjadi anggota dari sekte Quan Zhen (全镇), bagian dari sekte Tao. Anggota dari Tao sendiri biasa merapal mantra sambil berjalan melingkar untuk ketenangan dan konsentrasi. Karena kehebatannya ia akhirnya ditunjuk sebagai instruktur dan punggawa istana oleh Kaisar saat itu.

Dong Haichuan tadinya menyebut aliran bela dirinya dengan nama Zhuan Zhang (转掌) yang berarti telapak yang berbalik atau memutar. Ia kemudian menggabungkannya dengan teori Ba Gua (delapan penjuru) yang ada di buku I Ching Dong Haichuan saat itu hanya menerima murid yang sudah mempunyai dasar ilmu bela diri. Dari situ semua muridnya mengambil teknik dasar Dong Haichuan dan menggabungkannya dengan teknik bela diri yang sudah dikuasai. Ini yang menyebabkan pecahnya liran Baguazhang menjadi beberapa bagian.

Murid-murid Dong Haichuan yang akhirnya menjadi guru adalah Yin Fu (尹福), Cheng Tinghua (程廷华), Song Changrong (宋长荣), Liu Fengchun (刘凤春), Ma Weiqi (马维棋), Liu Baozhen(刘宝珍), Liang Zhenpu (梁振蒲).
Aliran Yin

Yin Fu adalah murid tertua Dong Haichuan dan belajar padanya selama kurang lebih 20 tahun. Ia pun mewarisi jabatan gurunya di pemerintahan sampai akhir dinasti Qing. Ia jugalah yang menguasai seluruh jurus dan falsafah Baguazhang di antara murid-murid Dong Haichuan. Aliran bela dirinya sebelum belajar Baguazhang adalah Luo Han Quan, bela diri pukulan dari utara Cina. Yin Fu adalah guru dari aliran Yin Baguazhang.

Aliran ini memiliki teknik kombinasi pukulan yang cepat. Bahkan dikatakan kalau semasa hidupnya Yin Fu bertarung seperti macan, bergerak masuk dan mendekati lawan dan seketika menjatuhkannya, sepeti gerakan macan. Aliran ini fokus kepada gerakan yang meledak-ledak, gerakan kaki yang cepat.

Aliran Cheng

Aliran ini mengikuti murid Dong Haichuan yang bernama Cheng Tinghua. Sebelumnya ia berlatih ilmu bela diri Shuai Jiao atau gulat Cina dalam bahasa Indonesia. Ia memiliki banyak murid dan variasi gerakan.

Aliran ini mementingkan pergerakan yang halus dan mengalir dengan sedikit penggunaan tenaga.Gerakan Cheng Tinghua dikatakan seperti naga yang menembus awan, dikatakan bahwa setiap kali ia memutar badannya, musuhnya akan terpelanting. Variasi populer dari aliran ini adalah Gao, Jiang dan Sun.
Aliran Liang

Aliran ini mengambil keturunan dari murid terakhir Dong Haichuan yaitu Liang Zhenpu. Semasa berguru, Liang Zhenpu terkena banyak sekali pengaruh dari kakak-kakak seperguruannya. Inilah yang akhirnya menjadi aliran yang sebenarnya adalah gabungan dari aliran Yin dan Cheng.
Aliran lainnya

Baguazhang masih memiliki banyak pecahan aliran. Di antaranya Fu, Gao, Gong, Jiang, Liu, Shi, Sun dan Yin Yang. Biarpun begitu semua aliran biasanya banyak mengambil dasar dari tiga aliran di atas.

Ciri khas

Yang membedakan Baguazhang dari ilmu bela diri umumnya adalah hampir tidak adanya kekuatan tekanan yang ada di jenis bela diri Waijia karena latihannya melatih tubuh bagian dalam. Baguazhang juga menekankan pada gerakan memutar melingkar dengan mata dan tangan tertuju ke tengah lingkaran. Pukulan-pukulan pada ilmu bela diri ini pun tidak boleh dengan menggunakan otot yang tegang. Kelenturan, kesatuan tubuh dan pikiran menjadi kunci.

Seorang petarung Baguazhang tidak berhadapan langsung dengan kekuatan lawan tapi mencari celah untuk kemudian memukul dan memaksimalkan tenaga yang ada. Jika dilakukan dengan benar, musuh akhirnya akan terkepung oleh gerakan lincah Baguazhang dan kehilangan keseimbangan. Dengan begitu musuh dapat dengan mudah dikalahkan dengan serangan-serangan yang berubah-ubah sesuai dengan keadaan. Semua petarung dari ilmu bela diri lain mengemukakan bahwa sulit sekali menghadapi musuh yang selalu berubah-ubah dan memiliki gerakan cepat seperti Baguazhang. Baguazhang sendiri memungkinkan petarung untuk bergerak bebas dan bahkan mengitari lawan dengan cepat.
More aboutBagua Zhang

Eskrima



Eskrima atau Escrima adalah seni bela diri Filipina yang menggunakan senjata berupa tombak dan pedang / parang sebagai alat pertarungan. Selain itu ada sebutan lain yaitu Kali, Arnis atau Arnis de Mano (perkerasan terhadap tangan); Bisa juga disebut sebagai FMA (Filipino Martial Arts). Eskrima atau Arnis adalah kata dasar yang selalu diikutkan dari beberapa nama seni bela diri yang dipakai di Filipina dewasa ini. Sedangkan Kali lebih dikenal di Amerika Serikat dan Eropa, sebenarnyah sebutan ini jarang digunakan di Filipina karena kata tersebut adalah kata yang tidak diketahui, tetapi melihat perkembangan yang begitu populer di luar Filipina dan memengaruhi praktisi asing, akhirnyah kata Kali dipakai menjadi bagian dari seni bela diri Filipina. Kalis adalah satu kata yang berarti senjata tajam berupa keris, atau berupa Arit, akhirnyah kata Kalis ini menjadi salah kaprah diterjemahkan sebagai asal kata dari Kali (catatan: bahasa Filipina tidak menggunakan “s” sebagai bentuk jamak).[butuh rujukan] Pada kesimpulannya, Eskrima, Arnis, Arnis de Mano, Kali dan FMA dapat diartikan sebagai seni bela diri senjata dan dan tangan kosong dari Filipina.
Konsep dasar Eskrima

Eskrima secara tradisional mempunyai konsep kesederhanaan. Dengan melihat sejarah dan keterbatasan waktu untuk mempelajari teknik-teknik yang rumit, "hanya keahlian yang telah terbukti dalam pertarungan dan mudah dipelajari yang dipergunakan". Pada mulanyah beladiri ini dipelajari oleh para petani, bukan oleh angkatan bersenjata yang profesional, yang digunakan sebagai pembelaan diri dari serangan dari desa-desa lainnya, dan juga dari negara asing yang menginvasi pada saat itu, dari situlah Filosofi Eskrima tercipta.

Dari hal tersebut diatas ada banyak kesalahan pemahaman bahwa Eskrima adalah sebuah seni bela diri “sederhana”, tetapi filosofi kesederhanaan itu dimaksudkan pada sistematika, bukan keefektifan, sebagai penggambarannya untuk menjadi master atau sekelas pendekar dibutuhkan waktu yang tidak singkat.

Perkumpulan/perguruan Eskrima bisa ditelusuri jalur sejarahnya dari beberapa suku atau wilayah di Filipina, Beberapa yang terkenal adalah Lightning Scientific Arnis International / Lema, Scientific Kali-Arnis System (LSAI / LESKAS), Pekiti Tirsia Kali, San Miguel Eskrima, Cacoy Doce Pares, Balintawak, Modern Arnis, Kalis Illustrisimo / Bakbakan, yang sangat populer di Amerika Serikat adalah Inayan System of Eskrima, Sayoc Kali, Cabales Serrada Eskrima, Lameco Eskrima dan Dog Brothers.

Para praktisi Eskrima mengembangkan keahlian untuk seni bela diri dengan senjata dan seni bela diri tangan kosong dalam satu dasar keilmuan. Semua sistem Eskrima mengajarkan penggunaan berbagai macam senjata, keahlian bela diri tangan kosong (pangamot, suntukan, sikaran, pananjakan), keahlian bergulat dan membanting (dumog), keahlian mengigit dan mencolok mata (kino mutai) yang secara umum adalah keahlian yang dibutuhkan dalam petarungan sebenarnya. Keahlian yang sekarang jarang diajarkan pada Eskrima modern adalah pengajaran pertarungan secara berkelompok (perang-perangan) dan hilot yaitu sistem pengobatan, pemijatan, pengenalan kepada tanaman obat tradisional.

Keahlian seni bela diri dengan menggunakan senjata dan tangan kosong diajarkan dalam metode yang saling berkaitan dan saling menunjang satu sama lainnya. Yang banyak dipakai adalah berupa tongkat tunggal (solo olisi/baston), tongkat ganda (double olisi / baston) dan pedang atau tongkat yang digunakan bersama dengan pisau (espada y daga). Sebagian sistem diketahui mengkhususkan pada cambuk dan tongkat panjang (toya).

Dalam Eskrima praktisi disebut sebagai eskrimador, Dalam Kali praktisi disebut kalista atau mangangali, sedangkan dalam Arnis praktisi disebut sebagai arnisador
Pengenalan Istilah

Kata Eskrima adalah ucapan secara Filipina dari bahasa Spanyol "esgrima", dalam Inggris adalah kata "skirmish" yang berarti "perang". Arnis adalah bagian dari kata "Arnés de Mano" yang berarti "perkerasan terhadap tangan". Sedangkat penamaan Kali ada beberapa versi, sebagian mengatakan berasal kepada kata senjata berupa keris, atau kalis. Yang lain mengatakan berasal dari pengabungan kata "kamot" atau "kamay" yang berarti "tangan" atau "tubuh", dan lihok yang berarti "pergerakan". Penjelasan tersebut mungkin adalah hasil temuan pada masa terbaru tentang Kali, yang merupakan singkatan dari kedua kata tersebut, Tetapi dalam sejarah Filipina sendiri tidak ada satupun yang menyebut Kali sebagai induk seni bela diri Filipina, termasuk populasi Muslim di Mindanao Selatan. Dalam faktanya penamaan kali tidak pernah muncul sampai tahun 1960-an ketika dua orang eskrimador di Amerika memopulerkan kata tersebut untuk membedakan pengenalan dari apa yang mereka ajarkan kepada eskrimador yang lainnya.[butuh rujukan]

Pada kenyataan yang ada, banyak yang percaya bahwa Kali adalah induk seni bela diri Eskrima dan Arnis, dan saat ini istilah Kali kebanyakan dipakai oleh beberapa aliran seni bela diri di Filipina Selatan, pada akhirnya istilah Kali semakin diterima dan semakin dikenal di luar Filipina sebagai bagian dari FMA oleh para praktisi asing sebagai pembeda. Beberapa teori mengatakan pembedaan nama pada FMA juga membedakan dari daerah mana seni bela diri itu berasal, pada masa periode mana seni bela diri tersebut terbentuk, meskipun pada kenyataannya semua pernyataan itu belum bisa dibuktikan kebenarannya. Harapannya suatu saat akan terjawab kenapa terjadi perbedaan nama tersebut.

Filipino Martial Arts terlihat berkembang begitu menonjol disebabkan karena beberapa film Hollywood, dan perjuangan beberapa tokoh seni bela diri internasional seperti Dan Inosanto, Cacoy Canete, Elmer Ybanez, Tony Diego, Teofilo Velez, Richard Bustillo, Ryan Gialogo, Edgar Sulite, Leo Gaje, Armando P. Angeles, Leo Giron, Mike Inay, Ernesto Presas, Remy Presas, Angel Cabales dll.
Tongkat Eskrima

Rotan, sebuah kayu yang murah dari jenis tanaman menjalar yang tumbuh di Filipina dan Asia Tenggara, adalah bahan yang biasa dipakai sebagai bahan untuk tongkat pendek dan tongkat panjang. Liat dan tahan lama, juga relatif ringan, pengkerasan bisa dilakukan dengan pemanasan dengan api, Jenis kayu ini bila dipukulkan hanya menimbulkan serpihan kecil dan tidak patah seperti jenis kayu yang lainnya. dan hal yang paling penting adalah untuk keamanan dalam pelatihan. Aspek ini juga menjadi berguna ketika harus bertahan menangkis pisau. Kamagong (Kayu Besi) kadang juga digunakan, tetapi tidak untuk latihan pertarungan karena menyebabkan cedera yang cukup parah, pada kenyataannya dalam pelatihan pertarungan secara tradisional tidak diijinkan memukul dengan telak; Praktisi harus cukup keahlian untuk menangkis dan membalas tanpa harus mencederai teman berlatih. Dalam eskrima dipakai beberapa macam ukuran sesuai dengan kebutuhan, juga jangkauan jarak yang dipakai, secara umum mulai dari 15 cm sampai 2 m lebih, tetapi yang biasa digunakan adalah dari ukuran 70 cm sampai 90 cm. Panjang tongkat yang dipakai tersebut juga mencerminkan metode pelatihan dan aliran yang diajarkan.
More aboutEskrima

Jeet Kune Do

 Jeet Kune Do (截拳道) disingkat JKD, dalam bahasa Mandarin 'Jié quán dào, dalam Bahasa kanton: Jit kyùn dou adalah sebuah seni bela diri yang diciptakan oleh Bruce Lee. Dia tidak hanya mempelajari Wing Chun, tapi juga tinju, karate, arnis, jujitsu, judo. Dari berbagai macam beladiri tersebut kemudian dipadukan dan disederhanakan sehingga terbentuklah sebuah seni bela diri yang praktis dan mudah di kuasai seseorang. JKD merupakan seni bela diri yang mengutamakan karakter dan kemampuan diri sendiri, jadi setiap praktisi JKD diharapkan untuk menjadi dirinya sendiri.


Tentang Jeet Kune Do

Bruce Lee menginginkan untuk menciptakan seni beladiri yang tak terbatas dan bebas. Kemudian dalam perkembanganya, Jeet Kune Do di ciptakan bukan hanya untuk menjadi petarung yang lebih baik, namun juga sebagai seni untuk pengembangan diri. untuk menggambaran pandangannya itu, di th 1971 pada artikel majalah Black Belt, Lee mengatakan

    “biarkan itu dipahami untuk sekali ini dan seterusnya bahwa saya tidak menemukan gaya yang baru, mencampur atau memodifikasi. Saya sama sekali tidak menetapkan jeet kune do dalam bentuk aturan yang jelas oleh hukum yang membedakan(mencirikan) bentuk ini atau metoda itu . sebaliknya, saya berharap untuk membebaskan teman teman saya dari pembudakan gaya, pola dan doktrin”.
    — Bruce Lee

Jeet Kune Do tidak hanya mendukung kombinasi dari berbagai aspek gaya yang berbeda, tetapi juga telah mengubah banyak aspek yang diadopsi dan di sesuaikan dengan kemampuan seorang praktisi.[butuh rujukan] dan JKD mendukung para praktisi untuk menterjemahkan berbagai teknik untuk dirinya sendiri, dan mengubahnya untuk tujuan mereka sendiri. Sebagai contoh, lee hampir selalu meletakan tangan yang kuat di depan dan yang lebih lemah di belakang, dengan sikap kuda kuda seperti ini, ia menggunakan tehnik dari tinju, anggar, dan Wing Cun. Seperti halnya anggar posisi sperti ini disebut sebagai “posisi siap siaga”. Lee menggabungkan posisi ini dalam JKDnya, seperti yang dia rasakan ini menjadikan mobilitas yang terbaik. Lee merasakan bahwa tangan yang dominan atau terkuat haruslah di depan karena akan bekerja lebih banyak. Lee meminimalkan penggunaan sikap yang lain kecuali ketika keadaan menjamin aksinya. Walaupun posisi “siap siaga” itu adalah posisi yang baik, ini bukan berarti hanya terpaku pada satu bentuk itu saja. Lee mengakui bahwa pada saat yang lain posisi yang lain harus digunakan.
Sistem

Pada tahun 1967. ketika Bruce Lee pertama kali memulai meneliti gaya bertarung (fighting styles), dia memberi nama seni bela dirinya dengan nama Jun Fan Gung Fu. Ini adalah hasil proses pegembangan beladirinya dari  perjalanan panjangnya dalam dunia seni beladiri yang ia tekuni. Bruce Lee menyatakan bahwa konsepnya bukanlah kumpulan berbagai hal yang terbaik dari segala sesuatu untuk membentuk suatu sistem, melainkan menyaringnya. Sebagai gambaran untuk menggambarkan filosofi lee tentang membuang sesuatu yang tak berguna, dia mengumpamakan apa yang dilakukan pematung ketika membuat karya, dari sebongkah tanah liat, kemudian membuang yang “tidak di perlukan”  lalu menghasilkan karya, inilah apa yang dia anggap sebagai sesuatu yang memperlihatkan inti pertarungan JKD, Bruce Lee, dan JKDnya, banyak di pengaruhi oleh tinju dan anggar. Walaupun konsep utamanya berasal dari Wing Chun (seperti teori garis tengah dan pukulan tegak lurus, serta serangan lurus, (forward pressure) Lee mengubah sikap kuda-kuda Wing Chun menjadi apa yang dia klaim lebih fleksibel adalah anggar dan tinju. Pernyataan tersebut membuatnya untuk tidak kaku dalam berdiri. Sebagai contoh sebagai ganti cara mengatur kaki untuk posisi tubuh dalam posisi bertempur maksimal yang saling berhadapan dengan lawan, JKD menggunakan terjangan masuk tanpa membutuhkan teknik dari wingcun

Bruce Lee menginginkan untuk menciptakan seni beladiri yang tak terbatas dan bebas. Kemudian selama mengembangkan Jeet Kune Do, dia akan mengembangkan gagasnya itu termasuk seni untuk pengembangan diri, bukan hanya untuk menjadi petarung yang lebih baik. untuk menggambaran pandangan lee, di th 1971 pada artikel majalah Black Belt, Lee mengatakan "biarkan itu dipahami untuk sekali ini dan seterusnya bahwa saya tidak menemukan gaya yang baru, mencampur atau memodifikasi.  Saya sama sekali tidak menetapkan jeet kune do dalam bentuk aturan yang jelas oleh hukum yang membedakan (mencirikan) bentuk ini atau metoda itu . sebaliknya, saya berharap untuk membebaskan teman teman saya dari pembudakan gaya, pola dan doktrin”.

Ketika berlatih gulat (Western wrestling), Lee pernah suatu saat dijepit oleh lawan yang lebih ahli, yang mengatakan apa yang akan lee lakukan jika dia mengalami situasi yang demikian dalam pertarungan yang nyata. Lee menjawab “ tentu saja aku akan menggigitmu”. Salah satu teori JKD adalah petarung harus melakukan apa saja yang diperlukan untuk melindungi dirinya, dengan mengabaikan dari mana teknik yang digunakan itu berasal.

Lee  menunjukan Jeet Kune Do adalah untuk mematahkan apa yang dia klaim faktor yang membatasi di dalam latihan gaya trdisional, dan mencari hipotesa cara bertarung yang dia percaya hanya dapat ditemukan dalam suatu pertarungan. Jeet Kune Do sekarang ini terlihat sebagai asal mula dalam ungkapan modern adalah hybrid martial arts. (pesilangan seni beladiri)

Jeet Kune Do tidak hanya mendukung kombinasi dari berbagai aspek gaya yang berbeda, itu juga  telah mengubah banyak aspek yang diadopsi di sesuaikan dengan kemampuan seorang praktisi. Apalagi  JKD mendukung para praktisi untuk menterjemahkan berbagai teknik untuk dirinya sendiri, dan mengubahnya untuk tujuan mereka sendiri. Sebagai contoh, lee hampir selalu meletakan tangan yang kuat di depan dan yang lebih lemah di belakang, dengan sikap kuda kuda seperti ini ia menggunakan elemen dari tinju, anggar, dan Wing Cun. Seperti halnya anggar posisi sperti ini disebut “posisi siap siaga”. Lee menggabungkan posisi ini dalam JKDnya, seperti yang dia rasakan itu ngnyajikan mobilitas yang terbaik secara keseluruhan. Lee merasakan bahwa tangan yang dominan atau terkuat haruslah di depan karena akan bekerja lebih banyak. Lee meminimalkan penggunaan sikap yang lain kecuali ketika keadaan menjamin aksi seperti itu. Walaupun posisi “siap siaga” itu adalah posisi yang baik secara keseluruhan, itu tidak berarti hanya satu bentuk itu. Lee mengakui bahwa pada saat yang lain posisi yang lain harus digunakan.

Lee merasa ciri dinamis dari JKD adalah yang memungkinkan bisa dilakukan bagi praktisi tersebut untuk menyesuaikan perubahan dan gejolak dalam suatu pertarungan. Lee percaya bahwa keputusan itu harus dilakukan dengan alasan (latar belakang) pertarungan yang nyata atau pertarungan bebas ("all out sparring"). Dia percaya bahwa dalam keadaan seperti itu seseorang akan menganggap teknik tersebut pantas untuk dipakai.

Bruce Lee tidak menitik beratkan pada penghafalan bentuk latihan mandiri (solo training forms)  atau “Kata” (dalam karate), seperti banyak dipakai sebagian besar gaya tradisional yang dilakukan untuk latihan pemula. Lee sering membadingkan bentuk yang dilakukan tanpa lawan sama dengan mencoba belajar berenang di atas tanah kering. Lee meyakini bahwa pertarungan yang nyata adalah hidup dan dinamis. keadaan dalam pertarungan berubah dari sepersejuta detik ke sepersejuta detik brikutnya, dan dengan begitu untuk mengatur sebelumnya suatu pola dan teknik tentu tidak cukup waktu pada saat berhadapan dengan situasi yang selalu berubah. Dan ada sebuah ungkapan untuk pemikiran ini, lee suatu kali menulis: “dalam ingatan dari manusia mengalir, memenuhi dan disimpangkan oleh keburukan kuno”, yang dimaksud keburukan kuno itu adalah apa yang lee pikirkan dari seni beladiri kuno.

Uraian dan metoda Bruce Lee kelihatan seperti kontrofersial  pada masanya, dan hingga sekarang. Banyak guru dari sekolah tradisional tidak setuju dengan gagasan yang dikeluarkanya.

Gagasan dari pelatihan silang (cross-training) dalam Jeet Kune Do sama dengan latihan dari (seni beladiri gabungan) Mixed Martial Arts (MMA) pada masa modern—Bruce Lee telah di pertimbangkan oleh president UFC  Dana White sebagai “bapak seni beladiri gabungan” ("father of mixed martial arts"). Banyak pemikiran Jeet Kune Do menjadi dasar dari MMA. Ini khusunya dalam hal penghargaan pada cakupan pertarungan JKD (JKD "Combat Ranges").  Seorang murid mengharapkan untuk belajar berbagai variasi sistem pertarungan dengan masing masing cakupan pertarunganya, dan dengan begitu menjadi efekfif untuk semua, seperti halnya dalam MMA.
Prinsip Jeet Kune Do

Memahami berbagai prinsip yang lee masukan dalam Jeet Kune Do. Dia yakin bahwasanya pertarungan sebenarnya adalah yang dibuktikan sendiri, dan akan membawa kesukseskan bertarung jika memahami 4 macam teknik bertarung  (The "4 Combat Ranges" ) terutama adalah apa yang dia yakini merasuk sepenuhnya.menjadi seni beladiri nya. Ini juga prinsip yang kebanyakan berhubungan dengan mixed martial arts. Praktisi JKD juga  menyumbangkan gagasan bahwa pertahanan yang terbaik adalah serangan gencar. Karena itu timbul prisip “menahan”/mencegat. Lee yakin bahwa  ketika lawan melakukan serangan pada seseorang dia harus bergerak kearah lawanya. Ini membuka sebuah peluang untuk menghadang serangan itu atau gerakanya. Prinsip dari pencegatan ini lebih dari sekadar mencegah serangan fisik. Lee yakin bahwa banyak tanpa kata dan sandi ( gerakan yang tak terduga yang tidak di pedulikan lawan) akan dirasakan  atau “dicegat” dan dengan demikian menjadi suatu keuntungan tersendiri.          5 cara menyerang ("5 Ways of Attack") adalah kategori serangan yang membantu para praktisi Jeet kune do mengorganisir tempo pertarunganya dan termasuk bagian serangan dari JKD. Konsep menghentikan pukulan dan tendangan dan elakan yang bersamaan dengan pukulan adalah mengambil dari anggar dan termasuk bagian pertahanan dari JKD. Konsep itu di modifikasi untuk pertarungan tangan kososng  dan di terapkan dalam kerangka JKD oleh lee. Konsep itu juga merupakan keistimewaan untuk prisip pencegatan.
(Jadilah air) Be water

Lee yakin bahwa sitem beladiri harus sefleksibel mungkin. Dia sering menggunakan air sebagai sebuah perumpamaan untuk menjelaskan mengapa fleksibilitas adalah sifat yang sangat dibutuhkan dalam seni beladiri. Air memiliki fleksibilitas yang tak terbatas. Dia dapat terlihat transparan namun disaat yang lain dapat menyembunyikan sesuatu dari penglihatan. Dia dapat terpecah dan mengalir kesegala arah, bergabung di sisi yang lain, atau dia dapat menyusup kesegala sesuatu, dia juga dapat mengikis batu yang keras dengan tetesan lembut padanya atau dapat mengalir melewati kerikil kerikil kecil. Lee yakin bahwa sistem seni beladiri harus memiliki sifat tersebut. JKD menolak latihan sistem tradisional, gaya bertarung dan ilmu pendidikan confucian (Confucian pedagogy) yang di gunakan pada sekolah kung fu tradisional karena kekurangan pada fleksibilitasnya. JKD dihaurskan untuk menjadi konsep yang dinamis yang selalu berubah, dengan begitu menjadi sangat fleksibel ”memahami apa yang berguna dan mengabaikan yang tidak bergua” ("Absorb what is useful; Disregard that which is useless" ) adalah sesuatu yang seringkali dikutip dalam peribahasa Bruce Lee. Murid  JKD dengan giat belajar setiap bentuk dari semua pertarungan. Ini dipercaya akan memperluas pengetahuan seseorang pada sistem pertarungan yang lainya; untuk menerapkan berbagai teknik(materi) pada seseorang sebaik untuk mengetahui bagaimana untuk melindungi diri melawan taktik yang demikian.
Teori Garis Tengah

Teori garis tengah adalah garis imajiner yang ditarik secara vertikal dari pusat tubuh manusia saat berdiri, dan mengacu pada ruang di depan tubuh. Jika kita menggambar sebuah segitiga sama kaki di lantai, dimana tubuh kita membentuk sebagai dasar dan dua lengan kita sebagai kaki dari segitiga sama kaki, maka (tinggi segitiga) adalah dua sisi yang sama. Ini adalah Konsep Wing Chun untuk mengeksploitasi, mengontrol dan mendominasi garis tengah lawan. Semua serangan, pertahanan, dan pergerakan yang dirancang untuk menjaga garis tengah Anda sendiri saat memasuki ruang tengah lawan. Lee dimasukkan teori ini ke dalam JKD dari Sifu nya Yip Man.

Tiga pedoman teori tengah adalah:
    Orang yang mengontrol garis tengah akan mengontrol pertarungan.
    Melindungi dan menjaga garis tengah Anda sendiri sementara Anda mengontrol dan mengeksploitasi lawan.
    Kontrol garis tengah dengan menduduki itu

4 macam teknik bertarung
4 macam teknik bertarung (The "4 Combat Ranges") yaitu:

    Tendangan
    Pukulan
    Menjerat (Trapping)
    Gulat (Grappling)

Prinsip "menahan"/mencegat

Lee yakin bahwa ketika lawan melakukan serangan pada seseorang dia harus bergerak kearah lawanya. Ini membuka sebuah peluang untuk menghadang serangan atau gerakan itu. dan cegatlah serangan itu dengan tanpa banyak kata dan sandi ( karena gerakan yang tak terduga tidak akan dipedulikan atau diketahui lawan)
5 cara menyerang ("5 Ways of Attack")

adalah kategori serangan yang membantu para praktisi Jeet kune do mengorganisir tempo pertarunganya dan termasuk bagian serangan dari JKD, yaitu:

    Single Angular Attack (SAA), serangan satu sudut, dan ini langsung mengarahkan pada satu titik lemah lawan, di arahkan dari sudut yang tak terduga. SAA dapat di gunakan dengan baik dengan malakukan gerak tipu atau menyesuaikan jarak dengan gerakan kaki.
    Hand Immobilizing Attack (HIA), menghentikan serangan ketika lawan menyerang, dengan serangan yang lebih cepat, semisal dengan penghentian serangan kaki yang di lanjutkan dengan penggunaan jeratan atau kuncian untuk membatasi lawan memfungsikan anggota badanya.
    Progressive Indirect Attack (PIA), serangan progresif tidak langsung.Menyerang satu bagian tubuh lawan di ikuti oleh serangan pada bagian tubuh yang lain dengan maksud membuka pertahanan.
    Attack By Combinations (ABC), serangan kombinasi, Ini menggunakan serangan beruntun dengan maksud menggunakan banyak serangan untuk melemahkan lawan.
    Attack By Drawing (ABD), serangan dengan pancingan Ini menciptakan sebuah peluang dengan posisi siap untuk menyerang balik.

Gerakan

praktisi JKD disarankan untuk tidak memboroskan waktu atau gerakan. Ketika masuk suatu pertarungan praktisi JKD yakin bahwa sesuatu yang paling sederhana adalah yang terbaik.

    Mencegat pukulan dan tendangan

Maksudnya mencegat serangan lawan dengan sebuah serangan sebagai ganti dari blokiran. Keahlian beladiri ini adalah yang tersulit dipelajari. Srategi ini bisa juga merupakan karakteristik dari beberapa seni bela diri lain.

    Elakan yang bersamaan dengan pukulan

Ketika menghadapi suatu pertarungan; serangan di elakan atau di belokan dan serangan balasan dikirimkan bersamaan pada saat yang bersamaan. Tidak sekadar menghentikan pukulan namun lebih efektif daripada blokiran dan serangan balasan yang dilancarkan kemudian. Ini juga di pelajari dari beberapa seni bela diri cina.

    Bukan tendangan tinggi
Praktisi JKD yakin mereka hendaknya mengarahkan sasaran tendanganya pada tulang kering lawan, lutut, paha dan bagian tengah. Target tersebut adalah yang terdekat dengan kaki, lebih stabil dan lebih sulit untuk di lindungi. Walaupun sepertinya semua prinsip JKD tidaklah saklek , jika sasaran pada kesempatan tersebut terbuka; bahkan target bagian atas pinggang seseorang dapat diambil pada situasi menguntungan tanpa merasa terhambat oleh prinsip ini.
Tiga Bagian Penting Jeet Kune Do

Praktisi Jeet Kune Do yakin bahwa teknik harus berisi sifat sebagai berikut:

    Efesiensi - sebuah serangan yang mengena sasaran.
    Langsung - melakukan secara sungguh sungguh (senyatanya) sebagai cara belajar.
    Simpel – berpikir dengan cara sederhana tanpa banyak gaya,cas cis cus yang tidak perlu.

Prinsip Berlatih

Untuk melatih diri anda sendiri, anda harus berlatih dengan tekun. tidak ada jalan lain. "anda harus menendang ataupun memukul dengan tenaga yang terkonsentrasi" inilah yang sering dikatakan Bruce Lee. "Jika anda tidak melatih diri dengan konsep yang hampir menyamai dengan melakukannya.
More aboutJeet Kune Do

Brazilian Jiu Jitsu



Jiu-jitsu Brasil (bahasa Inggris: Brazillian jiu-jitsu (BJJ)) adalah sebuah bela diri yang terfokus pada pertarungan lantai yang pertama kali dipopulerkan di Brasil. Bela diri ini merupakan sebuah pengembangan dari bela diri Kodokan Judo, yang dipelopori oleh Mitsuyo Maeda bersama Keluarga Gracie . Lebih jauh lagi, keluarga Gracie telah berhasil mempopulerkan bela diri dalam taraf internasional. Salah satu acara yang dinilai paling berhasil mempopulerkan bela diri ini adalah ajang tarung Ultimate Fighting Championship (UFC) yang beberapa kali dimenangkan oleh Royce Gracie.

Teknik yang dipelajari pada BJJ lebih terfokus pada pertarungan lantai, bantingan, kuncian, dan cekikan. Filosofi yang dipegang oleh praktisi bela diri ini adalah bagaimana lawan yang lebih kecil, lebih lemah, dan lebih lambat dapat menghadapi lawan yang besar dan kuat.

Sebagai olah raga, Jiu Jitsu Brazil mempunyai turnamen yang digelar dalam berbagai tingkatan. Sebagai seni bertarung, Jiu Jitsu Brazil banyak dipelajari sebagai upaya untuk membela diri dari tindak kriminal. Di samping itu, bela diri ini banyak diadopsi oleh praktisi bela diri campuran (Mixed Martial Arts) maupun kalangan militer.

Sejarah


Mitsuyo Maeda, (lahir di Jepang, November 1878) seorang praktisi Kodokan Judo yang merupakan murid dari pejudo legendaris Jigoro Kano, adalah cikal bakal terbentuknya Jiu-jitsu Brasil . Pada tahun 1904, Maeda diundang untuk datang ke Amerika Serikat untuk mendemonstrasikan Judo bersama Tsunejiro Tomita. Setelah sampai di Amerika Serikat, Tominta ditantang di untuk bertanding di muka umum dan mengalami kekalahan. Kekalahan ini membuat Maeda malu. Akhirnya, Maeda memutuskan untuk menjadi seorang pegulat profesional yang berkeliling dunia.

Pada tahun 1906 sampai 1913, Maeda berkeliling dunia sebagai pegulat profesional. Dalam kurun waktu tersebut, dia telah bergulat di Amerika Serikat, Inggris, Belgia, Spanyol, Meksiko, Kuba, dan Kosta Rika, sebelum akhirnya menetap di Brasil pada tahun 1914. Di sela-sela karirnya sebagai pegulat di Brasil, Maeda juga mengajar Judo .

Sekitar tahun 1916, seorang pemuda bernama Carlos Gracie mulai belajar Judo bersama Maeda. Setelah itu, Carlos berhenti belajar dan mulai mengoper ilmu yang dia dapat kepada adik-adiknya, yaitu Oswaldo, Gastao , dan Helio. Pada tahun 1925, bersama dengan adik-adiknya, Carlos membangun perguruan Jiu-jitsu Brasil di Rio de Janeiro. Perguruan tersebut terbilang cukup sukses dan berhasil membuat bela diri Jiu-jitsu terkenal di penjuru Brasil.

Pada tahun 1980’an, dua anggota keluarga Gracie yaitu Rorion Gracie (anak Helio Gracie) dan Carley Gracie (anak Carlos Gracie), memutuskan untuk pindah ke Amerika Serikat. Kemudian, dua anggota keluarga Gracie tersebut membangun perguruan Jiu-jitsu Brasil di California yang kesuksesannya terbilang menyerupai negara asalnya.

Popularitas Jiu-jitsu Brasil melejit pada tahun 1990’an setelah Royce Gracie berhasil memenangkan kompetisi Ultimate Fighting Championship (UFC), ajang tarung yang mengundang praktisi beladiri dari berbagai aliran. Pada tahun 1994, Angkatan Darat Amerika Serikat mengadopsi Jiu-jitsu Brasil untuk melatih tentara di Fort Benning, AS. Dewasa ini, Jiu-jitsu Brasil banyak dipelajari oleh praktisi bela diri campuran (MMA). Meskipun demikian, banyak praktisi MMA yang mengkombinasikan Jiu-jitsu Brasil dengan bela diri lainnya, seperti Muay Thai, Tinju, dan Gulat Greko-Roma

Perkembangan di Indonesia

Penyebaran Jiu-jitsu Brasil di Indonesia dipelopori oleh adanya komunitas Jiu-jitsu Brasil di Indonesia yang dibawa oleh mantan mahasiswa Amerika Serikat dan Australia (Niko Han, Yuristian Amadin, I made Wigraha, Martin Hartono, Andre Saputra, dan Ivan Hudyana). Melalui komunitas ini, kepopuleran Jiu-jitsu lambat laun menyebar. Terbukti dengan munculnya banyak perguruan yang mengajarkan Jiu-jitsu Brasil. Salah satu praktisi Jiu-Jitsu Brasil Indonesia yang ternama adalah Fransino Tirta, dia telah memenangkan berbagai pertandingan MMA dalam lingkup nasional maupun internasional .

Teknik dan Gaya Bertarung
Tehnik dan gaya bertarung Jiu Jitsu Brasil terfokus pada pertarungan bawah, bantingan, cekikan, kuncian sendi, dan pemanfaatan posisi menguntungkan. Pada prinsipnya, dari masing-masing posisi dapat dilancarkan berbagai variasi gerakan. Tujuan dari gerakan tersebut pada umummnya adalah untuk mendapatkan posisi yang lebih menguntungkan atau untuk menyelesaikan lawan dengan kuncian. Tehnik-tehnik pada Jiu Jitsu Brazil dapat dilatih dengan atau tanpa mengenakan Gi

Perbedaan dengan Ju-Jutsu Tradisional

Jiu Jitsu Brasil memiliki keserupaan dengan Jujutsu tradisional Jepang sebagai bela diri induknya. Kedua bela diri ini memilih tehnik yang efisien dibandingkan penggunaan tenaga kasar. Di samping itu, banyak tehnik yang digunakan Jiu Jitsu Brazil merupakan tehnik yang pada awalnya dikembangkan oleh praktisi Ju Jutsu Jepang. Meskipun demikian, Jiu Jitsu Brazil dan Jujutsu Jepang memiliki perbedaan yang mendasar. Perbedaan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.
Strategi Posisi

Yang unik dari Jiu Jitsu Brasil adalah bela diri ini memiliki strategi posisi yang komprehensif. Dalam strategi posisi tersebut, masing masing praktisi dilatih untuk menggunakan variasi tehnik untuk:

    berpindah dari posisi yang kurang menguntungkan ke posisi yang lebih menguntungkan,
    menahan lawan pada posisi yang kurang menguntungkan,
    menyelesaikan lawan berbagai posisi, terutama dari posisi yang menguntungkan.

Metode Latihan

Dalam Jiu Jitsu Brasil, metode latihan difokuskan pada latihan hidup (Randori). Hal ini merupakan wasiat dari Maeda yang merupakan murid Jigoro Kano, seorang praktisi judo legendaris yang menggunakan Randori sebagai metode latihan dasar. Yang dimaksud dengan latihan hidup adalah menggunakan sparring untuk latihan. Disini, masing-masing praktisi berusaha untuk mengunci lawan sembari menghindari serangan kuncian. Di sisi lain, latihan Ju Jutsu Jepang terfokus pada ‘kata’ atau serangkaian pergerakan teratur yang dilakukan oleh pasangan.
Sistem Poin

Dalam pertandingan Jiu Jitsu Brasil, terdapat sistem poin yang disesuaikan dengan keadaan pertarungan alami. Disini praktisi dihadiahi oleh poin ketika berhasil menciptakan posisi yang relatif menguntungkan dibandingkan dengan lawannya.
Perbedaan Tehnik

Pada Jiu Jitsu Brasil, tehnik yang dipelajari terfokus pada pergulatan di lantai (ne waza). Fokus latihan seperti ini tidak diikuti oleh Ju Jutsu Jepang. Perbedaan tehnik yang lain adalah, pada Ju Jutsu Jepang, dipelajari beberapa tehnik yang mengarahkan serangan ke titik vital seperti mata dan alat kelamin. Sementara pada Jiu Jitsu Brasil, tehnik seperti ini tidak dimiliki.
Kompetisi

Banyak pertandingan Jiu Jitsu Brasil di gelar dalam skala regional maupun internasional. Federasi Jiu Jitsu Brazil Internasional (IBJJF), secara periodis menggelar kompetisi besar, seperti Kejuaran Pan American, Kejuaraan Jiu-jitsu Eropa, dan Kejuaran Jiu-jitsu Dunia . Di samping itu, banyak praktisi Jiu Jitsu Brasil juga mengikuti (dan memenangkan) kejuaran gulat kuncian (Submission Grappling) [. Salah satu kompetisi gulat kuncian yang paling bergengsi adalah kejuaraan gulat kuncian yang digelar oleh Abu Dhabi Combat Club (ADCC) . Di Indonesia sendiri, cukup sering diadakan kejuaraan gulat kuncian . Kejuaraan yang memiliki skala paling besar adalah Indonesian Submission Championship yang diadakan oleh Federasi Grappling Indonesia (FGI) setahun sekali .
Penilaian

Dalam kompetisi Jiu Jitsu atau gulat kuncian, penilaian dilakukan oleh juri atau wasit. Biasanya, juri pertandingan adalah praktisi Jiu Jitsu Brasil yang berpengalaman. Umummnya juri dan wasit menggunakan peaturan yang dibuat oleh IBJJF. Peraturan IBJJF, merupakan standar yang paling banyak digunakan oleh kompetisi Jiu Jitsu Brasil di seluruh dunia. Ada dua cara untuk memenangkan pertandingan Jiu Jitsu Brasil. Cara yang pertama adalah dengan memaksa lawan menyerah dengan kuncian, sedangkan cara yang kedua adalah denngan menang poin. Ketika seorang praktisi berhasil mengunci lawannya, umummnya lawannya menyatakan menyerah dengan menepuk-nepuk bagian tubuh lawan, dengan membanting-banting kaki pada matras, atau dengan menyerah secara verbal. Untuk menang poin, seorang praktisi harus memiliki poin lebih dari lawannya ketika pertandingan berakhir. Poin bisa didapatkan oleh kompetitor dengan membanting atau dengan memperoleh posisi dominan
More aboutBrazilian Jiu Jitsu

Aikido



 Aikido (bahasa Jepang: 合気道, aikidō) adalah seni beladiri yang mempunyai akar pertumbuhan dan budaya dari Jepang. Aikido merupakan manifestasi dari modernisasi pemikiran Jepang dengan selimut budaya Jepang tradisional. Hal ini membuat seni beladiri yang dikembangkan oleh Morihei Ueshiba sekitar tahun 1800-an( 植芝 盛平 Ueshiba Morihei) menjadi sangat diminati berbagai kalangan pada abad modern ini sebagai sebuah gaya hidup. Akar ilmu bela diri aikido terutama berasal dari sebuah tradisi bela diri kuno yang turun temurun hanya dimiliki oleh sebuah keluarga istana,[1] yaitu "Daito Ryu Aiki-Jujutsu (atau ju-jutsu)".

Dalam tradisi lama "Jutsu" berarti sebuah "art" atau "seni", sehingga bentuk lama ini mempunyai pakem-nya sendiri sebagai sebuah tradisi dengan tatanan gerak tertentu. "Daito" adalah sebuah nama yang merujuk kepada nama sebuah istana, yaitu Daito. "Daito" merupakan istana milik putra keturunan Kaisar Seiwa bernama Minamoto Genji Yohimitsu. Yoshimitsu diwarisi ilmu ini oleh putra keenam Kaisar Seiwa yaitu Pangeran Teijun yang sangat menggemari ilmu beladiri.

Morihei Ueshiba yang biasa disebut sebagai O-Sensei mempelajari ilmu "Aiki" ini dari guru pewaris ilmu ini yaitu "Sokaku Takeda". "Takeda" adalah sebuah nama keluarga yang tidak lain adalah nama lain dari keluarga "Minamoto". Dengan bakat yang begitu besar, Morihei Ueshiba telah menyebarkan muridnya ke seluruh dunia untuk memperkenalkan keindahan ilmu seni beladiri aikido ini. Saat ini, aikido telah berkembang sekurangnya ke 93 negara di Asia, Eropa, Amerika, Australia dan sebagian Afrika.

Aikido Indonesia

Secara istilah "Aikido Indonesia" pertama kali digunakan oleh Perguruan Aikido Indonesia di bawah naungan Yayasan "Keluarga Beladiri Aikido Indonesia" yang biasanya dikenal dengan istilah umum "KBAI". Yayasan KBAI ini terbentuk secara resmi pada tahun 1994 di Jakarta dengan para pendirinya yang terdiri dari Bapak Ir. Muhammad Gazali, Bapak. Drs Muhammad Razif dan Ir. Ferdiansyah.

Sedangkan aikido di Indonesia secara organisasi telah diorganisir pertama kali oleh organisasi yang juga berbentuk yayasan, yaitu "Yayasan Indonesia Aikikai" atau "YIA" pada tahun 1984. Sedangkan menurut informasi lisan (penuturan), sejarah perkembangan aikido di Indonesia telah mulai berkembang sejak sekitar tahun 1970, bersamaan dengan kembalinya para putera Indonesia yang lulus sarjana dari Jepang yang disekolahkan Pemerintah RI sebagai akibat pampasan perang Jepang.

Perkembangan aikido dan beladiri impor lainnya dari Jepang sebenarnya tumbuh dalam kurun waktu yang kurang lebih sama. Tetapi seni beladiri Kempo, Karate, Jujitsu dan Judo menjadi lebih dahulu populer dibandingkan Aikido pada masa itu. Dan pada kenyataannya seni beladiri aikido baru mulai tumbuh sejak tahun 1990 di Indonesia.

Sejarah
Aikido diformulasikan sejak akhir 1920-an sampai dengan 1930-an hingga pada bentuknya yang sekarang oleh Morihei Ueshiba (植芝 盛平 Ueshiba Morihei, 14 Desember 1883-26 April 1969, disebut juga sebagai o-sensei 大先生、翁先生 "guru besar"). Ueshiba memperkaya dan mengembangkan Aikido dengan berbagai koryu (seni beladiri/seni pedang lama)selain "basis"-nya Daito ryu, menjadi suatu seni beladiri yang unik. Morihei Ueshiba sebagai seorang murid merupakan murid yang berbakat dan mengabdi pada gurunya yaitu Sokaku Takeda. Sokaku Takeda memberi lisensi kelengkapan ilmunya kepada Morihei Ueshiba dalam bentuk "Mokuroku".

Dengan lisensi tersebut Morihei Ueshiba mendirikan sekolah pertamanya dengan nama "Ueshiba Ryu Daito Aiki jutsu" yang kemudian berubah nama menjadi "Aiki Budo" dan akhirnya disempurnakan dengan nama "Aikido". Dojo pertama Aikido didirikannya di Tokyo dan hingga saat ini masih tetap ada dan bernama Aikikai Hombu Dojo, sebagai pusat pengembangan aikido di seluruh dunia.

Ueshiba menginginkan Aikido tidak hanya sebagai sebuah seni beladiri, tetapi juga ekspresi falsafah pribadinya yang bersifat damai dan universal. Seumur hidupnya, Ueshiba dan murid-muridnya telah menyebarkan Aikido dengan cara mendidik dan menciptakan praktisi beladiri ini di seluruh dunia. Ueshiba meninggal pada tanggal 26 April 1969 karena penyakit kanker, namun Aikido tetap berkembang pesat setelah kematiannya.

Etimologi dan filsafat
Kanji Aikido

Aikido menekankan harmonisasi dan keselarasan antara energi ki (気, prana) individu dengan ki alam semesta. Kata "aikido" berasal dari tiga huruf kanji:

    合 - ai - bergabung, menyatukan, menyelaraskan
    気 - ki - jiwa, energi kehidupan
    道 - dō - jalan, cara

Seni beladiri ini juga menekankan pada prinsip kelembutan dan bagaimana untuk mengasihi serta membimbing lawan. Prinsip ini diterapkan pada gerakan-gerakannya yang tidak menangkis serangan lawan atau melawan kekuatan dengan kekuatan tetapi "mengarahkan" serangan lawan untuk kemudian menaklukkan lawan tanpa ada niat untuk mencederai lawan.

Teknik
Berbeda dengan beladiri pada umumnya yang lebih mengutamakan pada latihan kekuatan fisik dan kecepatan, Aikido lebih mendasarkan latihannya pada penguasaan diri dan kesempurnaan teknik. Teknik-teknik yang digunakan dalam Aikido kebanyakan berupa teknik elakan, kuncian, lemparan yang tampak sama dengan bantingan. Di banyak perguruan aikido, teknik-teknik pukulan maupun tendangan dalam praktiknya jarang digunakan atau malah dihilangkan. Sebenarnya teknik pukulan dan tendangan di dalam aikido tidak dikenal sedemikian sempitnya, sehingga terdapat istilah "atemi", sebagai suatu cara untuk menggunakan segala kemungkinan seluas-luasnya dalam mendaya gunakan tubuh untuk memukul-menendang dan setaranya (termasuk menggunakan dahi, siku, lutut dan lainnya). Walaupun demikian, dengan berbagai alasan teknik atemi ini cenderung ditinggalkan atau dihilangkan oleh banyak perguruan aikido.

Keunikan aikido adalah geraknya yang hampir tidak pernah mundur dalam mengatasi berbagai jenis serangan. Gerakannya cenderung melingkar dibandingkan lurus-lurus. Di dalam konsep gerak inilah kita akan banyak memahami secara nyata falsafah aikido dalam artian sebenarnya. Banyak orang tertarik belajar aikido dimulai karena ketertarikannya pada falsafahnya yang cukup tinggi. Tetapi, uniknya justru terletak pada kesinambungan pemahaman antara seorang praktisi dengan seorang filsuf. Sehingga, saran setiap guru aikido kepada mereka yang ingin mengetahui aikido secara cermat adalah dengan "latihan".

Falsafah yang mendasari Aikido, yaitu kasih dan konsep mengenai ki, membuat Aikido menjadi suatu seni beladiri yang unik. Secara umum Aikido dapat digolongkan sebagai beladiri kuncian dan pergumulan (Inggris: grappling).

Aikido tidak mengenal sistem kompetisi atau pertandingan, seperti beladiri pada umumnya untuk tujuan pemasyarakatannya. Namun cara yang dipergunakan aikido untuk memasyarakatkan dirinya adalah dengan sistem embukai atau sejenis peragaan dalam seni gerak bela diri.

Hingga saat ini Aikido juga memiliki banyak cabang "teknik" (Jepang: waza; Inggris: style) yang juga memperkaya teknik-teknik yang tidak meninggalkan teknik dasarnya.[3] lebih menekankan teknik-tekniknya kepada kecepatan dalam mengatasi serangan lawan (nage).

Sistem Tingkatan
Sistem tingkatan yang harus dilalui oleh seorang praktisi Aikido hampir sama dengan yang digunakan oleh seni beladiri asal Jepang lainnya, yaitu sistem Kyu (mudansha, tidak memiliki dan) untuk tingkat dasar dan Shodan (yūdansha, memiliki dan = ahli) untuk tingkat mahir.

Praktisi yang berada di tingkat kyu 6 sampai kyu 4 menggunakan tanda berupa sabuk yang berwarna putih, sementara praktisi yang mencapai tingkatan kyu 3 sampai 1 menggunakan sabuk berwarna cokelat. Adapula dojo yang menerapkan sabuk kyu 6 sampai 1 tetap berwarna putih. Shodan adalah tingkatan yang selanjutnya; praktisi yang mencapai tingkatan ini ditandai dengan sabuk yang berwarna hitam serta aksesoris tambahan berupa celana panjang bernama hakama.[6] Celana seperti ini biasa dipakai oleh para samurai pada zaman dahulu.
More aboutAikido

T'ai chi


 T'ai chi adalah singkatan dari kata t'ai chi ch'uan, merupakan bela diri dan teknik menggerakkan badan yang berkembang di Cina. Taichi sangat populer, biasanya dilakukan secara masal pada pagi hari di taman atau ruang terbuka.

Sebagian orang menyebut Taichi sebagai proses mediasi yang dibalut dalam gerakan. Gerakannya yang aman juga membuat seni bela diri taichi dipraktekkan di seluruh dunia oleh berbagai usia. Dari segi kesehatan, menurut para dokter, taichi mendatangkan banyak manfaat meliputi memperbaiki keseimbangan, fleksibilitas, stamina, tekanan darah, kesehatan jantung, mental, dan gejala yang berhubungan dengan stroke, fibromyalgia, penyakit Parkinson, dan Alzheimer.

Gerakan Taichi
Taichi pada tingkatan fisik adalah serangkaian gerakan yang memang disengaja dilakukan dengan lambat dan hati-hati. Latihan menekankan pada gerakan yang tepat, pernapasan, dan juga kesadaran. Untuk memahami gerakan taichi sebaiknya dipelajari dari instruktur yang sudah berpengalaman.

Pada zaman sekarang, taichi justru dikenal sebagai seni bela diri yang memberikan banyak manfaat bagi kesehatan. Gerakan yang perlahan dan berisiko rendah menjadikan taichi sebagai latihan yang ideal bagi orang tua ataupun mereka yang kesulitan secara fisik. Taichi dipraktekkan tak hanya sebatas olaharaga tetapi juga kualitas estetika dengan komponen spiritual bersahaja, menggabungkan konsep Cina yin-yang dan chi, atau aliran energi.


Manfaat Taichi
Begitu banyaknya manfaat taichi bagi kesehatan, membuat banyak rumah sakit besar membuka kelas untuk mempercepat penyembuhan pasien.

Studi independen yang dipublikasikan melalui jurnal Plus One pada April 2013 menemukan bahwa taichi mengurangi gejala rematik, meningkatkan fungsi fisik pada pasien osteoarthritis, meningkatkan pernapasan, dan daya tahan pasien penderita penyakit paru-paru obstruktif kronis sama seperti pengobatan konvensional.

Jurnal Fisioterapi yang diterbitkan Maret 2012 juga mengungkap bahwa latihan taichi dapat mengurangi gangguan keseimbangan pada penderita parkinson. Tahun 2010 pada New England Journal of Medicine, para dokter menulis bahwa taichi adalah perawatan yang berguna untuk fibromyalgia, gangguan saraf yang ditandai dengan nyeri otot luas dan kelelahan.

Juga pada tahun 2010, dokter melaporkan di BioMed Central bahwa latihan teratur taichi meningkatkan kesejahteraan psikologis termasuk mengurangi stres, kecemasan, depresi dan gangguan mood, dan meningkatkan harga diri.
More aboutT'ai chi

Hapkido


Sejarah Hapkido Korea dengan pendirinya, Choi.Yong Sul (1904-1986), yang hidupnya sangat dipengaruhi dengan invasi oleh Jepang pada tahun 1910 ke Korea.

Lahir di Yong Dong di provinsi Chungcheongbuk -do , Choi dibawa? oleh seorang pedagang bernama Morimoto pada usia delapan ke Jepang. Morimoto, ingin mengadopsi Choi muda. Choi namun terbukti menjadi anak bermasalah dan akhirnya dilepas di jalanan, hingga menjalani kehidupan pengemis sampai di Osaka di mana ia ditangkap oleh polisi dan dibawa ke sebuah kuil Buddha di Kyoto yang peduli untuk anak yatim . Kepala biara kuil , seorang biarawan bernama Watanabe Kintaro , merawat Choi muda selama dua tahun .

Choi memiliki masa masa sulit hidup di kuil , dan sebagai orang asing dan? miskin, sering dipukul oleh anak-anak lain dan memiliki kecenderungan untuk berkelahi. Watanabe akhirnya Choi dibawauntuk bertemu temannya Sokaku Takeda (1859-1943) , yang terkenal di seluruh Jepang sebagai pewaris dari aliran Daito-ryu aiki jujitsu.

Daito ryu aiki jujitsu didirikan oleh Yoshimitsu Minamoto pada abad ke-11,? Seni perang rahasia yang dijaga ketat dan hanya diajarkan kepada anggota peringkat tertinggi dari keluarga samurai tertentu . Pada akhir era Meiji, Tonomo Saigo (1829-1905) , adalah orang diluar hirarki yang pertama kalinya mempelajari nya kepada Sokaku Takeda.

Rumah dan dojo Takeda berada di Akira di gunung Shin Shu di mana Choihidup dan dilatih dengan master legendaris selama 30 tahun . Sokaku meninggal pada 25 April 1943.

Setelah perang dunia kedua (1939-1945) , Choi kembali ke Korea dan menetap di Taegue , ibu kota Gyeong Sangbuk -do provinsi, di mana ia memulai hidup dengan? menjual kue beras .
Pada tahun 1948 ia telah mendapatkan cukup uang untuk membeli beberapa babi .
Untuk menggemukkan babi ia membutuhkan biji-bijian , yang diperoleh dengan memompa air di Suh Brewing Company . Sambil menunggu gandum di tempat pembuatan bir ia menjadi terlibat dalam sengketa dengan beberapa pria dimana perkelahian tersebut disaksikan oleh Suh Bok Sub , ketua perusahaan dan anak dari pemilik.
Suh terkesan dengan keterampilan Choi dan mengundangnya untuk mengajar, selanjutnya Bok Sub menjadi mahasiswa pertama Choi Yong Sul .

Pada tahun 1951 Choi dan Sub bersama sama membuka dojang resmi pertama, dojang Korea Yu Kwan Sool Hapki , dan pada tahun 1958 Choi membuka dojang sendiri menggunakan nama Hapkido Pada tahun 1963 Grandmaster Choi menjadi ketua Korea Kido Association yang baru terbentuk , sebuah organisasi yang memayungi hampir semua seni bela diri Korea .

Seni bela diri tradisional serta budaya Korea, yang ditekan selama pendudukan Jepang (1910-1945), tetapi ketika perang berakhir ada kebangkitan disiplin ilmu bela diri . Banyak pelopor seni bela diri muncul , termasuk Choi Yong Sul , menciptakan kebangkitan seni bela diri Korea .

Pada selanjutnya Choi dan berbagai pengaruh para murid seniornya mulai menggabungkan teknik tendangan dan pukulan agresif beladiri Taek Kyon ke dalam gaya dasar defensif Daito-ryu , sehingga Hapkido yang sebenarnya mempunyai kesamaan dengan Aikido akhirnya menjadi seni beladiri yang memiliki teknik2 menyerang yang agresif.

Status Choi Yong Sul sebagai murid Sokaku Takeda kadang-kadang diperdebatkan . Terlepas dari posisi Choi, ia unggul di bawah arahan Sokaku Takeda & menguasai seni Daito-ryu aiki jujitsu .

Pada tahun 1982 ia melakukan perjalanan ke Amerika Serikat , mengunjungi berbagai sekolah beladiri Korea, mengungkapkan keinginannya bahwa berbagai group yang berbeda dari Hapkido menjadi bersatu. Choi meninggal pada tahun 1986 pada usia 82 dan dimakamkan di kota Taegue.
Putranya, Choi Bok Yeol menjadi penggantinya , namun meninggal setahun kemudian pada tahun 1987 .
Pada saat itu tidak ada pengganti lainnya yang ditunjuk, sehingga hal inilah yang mempengaruhi juga makin merebaknya berbagai gaya Hapkido didunia.

PRINSIP TEKNIK HAPKIDO
Prinsip Hapkido :
Hapkido menekankan gerakan melingkar daripada gerakan linear, hampir semua teknik Hapkido harus mengikuti tiga prinsip .
1 . Tidak menentang ( " Hwa " , 화 atau和) → ( 화 Hwa和Harmony )
2 . Prinsip lingkaran ( " Won " , 원 atau圆) → ( 원 Weon圆Circle)
3 . Prinsip air mengalir / Fleksibel ( " Yu " , 유 atau柳) → ( 유 Yu Arus流)
Hwa , atau non - resistensi , adalah gerakan lembut / halus dan tidak langsung menentang kekuatan lawan .
Misalnya, Hapkido akan menghindari konfrontasi langsung dengan cara bergerak ke arah yang sama denganmendorong dan hanya memanfaatkan momentum ke depan lawan untuk melempar.

Won , prinsip melingkar , adalah cara untuk mendapatkan momentum untuk melaksanakan teknik .
Jika serangan lawan dalam gerakan linear , seperti dalam pukulan atau tusukan pisau , Hapkido akan mengarahkan kekuatan lawan dengan menuntun serangan dalam pola melingkar , sehingga menambah kekuatan penyeranguntuk terkena dampak serangan nya sendiri . ( menggunakan tenaga lawan )

Yu , prinsip air , dapat dianggap sebagai lembut , kekuatan beradaptasi seperti air .
Hapkido adalah "lunak " dalam hal itu tidak bergantung pada kekuatan fisik saja , tetapi seperti air yang lembut untuk disentuh.
Hal ini akan beradaptasi pada seorang master Hapkido saat mencoba untuk menangkis serangan lawan ,
dengan cara yang mirip dengan air yang mengalir bebas ( energi nya ) akan terbagi di antara bebatuan, hanya untuk kembali terkumpul dan bersatu ( untuk dapat dipergunakan menyerang balik ).
More aboutHapkido